Senin, 08 April 2024

Review Blue Velvet 1986 (Bahasa)

 Review Blue Velvet 1986 Karya David Lynch


3 kata : Tegang, Tamak, Kejam

Blue Velvet adalah film yang menceritakan seorang pria bernama Jeffrey yang berusaha menyelidiki seorang penyanyi bernama Dorothy karena dirinya menemukan sebuah potongan telinga manusia dan menduga bahwa Dorothy ada kaitannya dengan penemuannya tersebut.

Warning : This review may contain spoilers.

Review :

Awalnya saya mengira film ini akan sangat liar mengingat film ini garapan dari sutradara David Lynch yang terkenal gemar memproduksi film semacam itu. Namun dugaan saya salah, film ini tak se-liar yang saya kira. 




Berhubung ini film thriller, saya mau membahas sedikit tentang ketegangan di film ini. Yap, film ini berhasil bikin saya terkejut beberapa kali layaknya nonton film horor, karena beberapa adegan nya memang semenegangkan itu.

Dari awal sampai akhir film kita merasa seperti mengikuti perjalanan investigasi serta penyelidikan atas penemuan sebuah telinga manusia yang tidak sengaja ditemukan Jeffrey di sebuah lapangan. Tidak sendirian, dia dibantu oleh gadis yang sedang didekatinya, Sandy, serta ayah dari Sandy yang merupakan seorang detektif.

Sandy menduga bahwa Dorothy si penyanyi terlibat dalam kasus ini. Jeffrey pun menyusun sebuah rencana untuk menyelinap masuk ke apartemennya dengan memohon bantuan dari Sandy. Namun hasil yang didapat nihil dan Jeffrey tertangkap basah oleh Dorothy. Jeffrey pun dipergunakan sebagai pemuas oleh Dorothy, namun di tengah-tengah Dorothy kedatangan seorang pria bernama Frank yang ternyata Dorothy adalah alat pemuas-nya Frank, sementara itu Jeffrey berusaha menyembunyikan dirinya sambil mengintip mereka.




Di suatu waktu hubungan antara Jeffrey dan Dorothy ketahuan oleh Frank dan geng nya yang membuat Jeffrey dikucilkan atau "diberi pelajaran". Atas kelakuan Jeffrey yang tidak diterima oleh Frank, Frank menyerang Jeffrey hingga tak sadarkan diri.

Semakin hari Jeffrey menyelidiki kasus ini, ia mengetahui suatu fakta bahwa Frank rupanya menculik suami (pemilik telinga yang terpotong) dan anak dari Dorothy, yang akhirnya Jeffrey bisa pecahkan di akhir film. Sungguh film yang happy ending :)

Yang saya kurang paham dari film ini hanya eksistensi dari Yellow Man, siapa dia sebenarnya dan hubungannya dengan tokoh yang lain. Saya rasa keberadaannya membuat saya bingung. Saya juga bingung di ending film sebelum di Frank tertembak, itu Yellow Man tertembak dalam kondisi berdiri dan suami Dorothy dalam kondisi terikat, sebenarnya apa yang terjadi?

Karakter favorit saya di film ini adalah Detektif William. Entah kenapa menurut saya dia adalah orang yang handal, profesional, dan ramah, terbukti dengan caranya memperlakukan Jeffrey. Kalau karakter yang paling saya benci sih udah jelas Frank ya, heran ada orang kek gitu, bikin kesel sepanjang nonton.




Dari awal sampai film kita juga disuguhkan dengan lagu yang berjudul sama dengan judul filmnya, lagu yang iconic, walaupun kalau dibilang cocok atau ngga sama filmnya saya juga bingung sih.

Overall Blue Velvet adalah film yang menggambarkan tentang lingkungan sosial di Amerika, dimana penjahat bertebaran dan tindakannya menyusahkan banyak orang, entah itu mereka lakukan demi harta, kepuasan tersendiri atau hanyalah wujud balas dendam. 

Rating : 4,5/5

Minggu, 07 April 2024

Review Aftersun (2022) (Bahasa)

 Review Aftersun (2022) Karya Charlotte Wells

3 kata : Emosional, Cantik, Hampa

Aftersun bercerita tentang seorang perempuan bernama Sophie tengah menonton rekaman saat liburan terakhirnya bersama ayahnya (Calum) dan ia membayangkan dirinya yang sudah jauh lebih dewasa sedang berada di momen liburan tersebut.

Warning : This review may contain spoilers.

Review : 

Sebetulnya ini kali kedua saya menonton film ini. Waktu pertama kali nonton saya bingung ini film apa, lantas rasanya tidak ada konflik yang begitu signifikan, hanya menampilkan shot seorang anak perempuan dan ayahnya yang sedang liburan. Namun saat nonton kedua kalinya, baru saya paham apa yang sebenernya terjadi (terbantu karena baca review orang juga, sih).




Seperti film A24 lainnya, film ini banyak menampilkan shot yang tidak bergerak, walau porsinya tidak sebanyak itu juga, namun tetap beberapa kali menimbulkan rasa ngantuk saat menontonnya.

Sinematografinya jempolan sih, bener bener bisa pas sama apa adegannya, kalau lagi adegan kolam renang vibes-nya ceria, dan pas adegan sedih pun visual-nya juga ngikutin. Ditambah ada beberapa scene yang diambil dari digicam jadi makin kerasa nostalgic nya.

Untuk cerita memang kelihatannya simple, tapi sebenarnya dalam. Mungkin di awal cuma ngerasa, "oh ini cuma tentang anak sama bapak liburan aja" namun ternyata lebih dari itu. Sophie yang sudah beranjak dewasa sedang mengamati dan menonton video-video rekaman dari digicam nya, yang ia ambil saat liburan bersama ayahnya, Calum, yang ternyata itu adalah liburan terakhir mereka.

Calum sudah merencanakan liburan terakhir bersama Sophie, sebelum Sophie kembali sekolah dan dijaga oleh ibunya. Calum berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuknya, dengan memberikan pengalaman liburan yang tidak akan dilupakan Sophie, pengalaman yang berharga. 




Tak terasa penghujung liburan sudah tiba, Calum mengantar Sophie ke tempat keberangkatannya. Setelah Sophie pergi dan melambaikan tangan, Calum pun pergi meninggalkannya dengan perasaan sedih, mengingat itu adalah liburan terakhir mereka dan Calum meninggal akibat bunuh diri setelah itu. Terlihat ada strobe lights di balik pintu setelah Calum pergi dari tempat tersebut.

Strobe lights tersebut mengacu pada adegan kedap-kedip yang bisa kita lihat dari awal sampai akhir film, membuat adegan menjadi lumayan susah dilihat oleh mata (bikin sakit mata kalo boleh jujur). Scene-scene tersebut merupakan haluan Sophie dewasa saat ia menyaksikan rekaman liburan terakhir dan membayangkan dirinya berada di sana, tepatnya saat Calum menari.




Adegan menari tersebut merupakan scene yang epic menurut saya, soalnya adegan yang ditampilan cocok dengan lagu yang mengiringinya, lagu berjudul "Under Pressure" karya Queen dan David Bowie. Lirik "This is our last dance" bener-bener cocok dan ngena.

Satu hal yang menarik dari film ini bukan hanya hubungan di antara mereka, namun dari segi Sophie yang beberapa kali mengamati anak anak yang umurnya lebih dewasa dibandingkan dirinya, tengah melakukan tindakan yang rasanya kurang pantas untuk dilihatnya. Ditampilkan juga pertemuannya dengan seorang bocah laki-laki bernama Michael yang ternyata agak suka terhadapnya. Sophie juga mengatakan perasaan yang sama dan mereka pun berciuman. Awalnya saya ngerasa nggak wajar untuk begituan di usia mereka yang berkisar 11 tahun, tapi ngaca aja nggak sih sama kondisi di negara sendiri?

Dari segi cerita yang saya sudah bilang "simple tapi dalam" memang menggambarkan film ini yang terasa simple namun jika kita kaji dan perhatikan lebih dalam, akan terasa larut dalam kesedihan yang ada. Namun harapnya film ini bisa lebih dikembangkan lagi konfliknya, sehingga bisa menjadi nilai plus tentunya.

Overall Aftersun merupakan film yang emosional dan bisa dirasakan ketika kita benar benar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ditampilkan dengan visual yang manis namun  tidak halnya dengan ceritanya. Film yang dapat menyisakan diri kita dengan perasaan sedih, kosong, dan nyesek, dibantu juga dengan musik yang emosional.

Rating : 4/5

Sabtu, 06 April 2024

Review Brazil (1985) (Bahasa)

 Review Brazil (1985) Dir. Terry Gilliam


Warning : This review may contain spoilers.


3 kata : Seru, Aneh, Meledak


Brazil menceritakan tentang seorang pria bernama Sam Lowry yang sering memimpikan dirinya tengah menyelamatkan seorang wanita cantik yang layak ia perjuangkan. Saat Sam bertemu dengan sosok yang dimimpikannya di dunia nyata, ia dengan bersusah payah agar dapat memikat hati wanita tersebut.

Review : 



First impression menonton film ini saya merasa film ini merupakan film yang absurd dan liar (digambarkan dengan berbagai karakter yang wajah dan vibes nya serem-serem gitu, kecuali tokoh utama yang wajahnya paling normal). 

Unsur ledakan di film ini juga bisa dibilang banyak banget, setiap beberapa menit pasti ada aja ledakan, dan suaranya sangat jomplang dengan suara dialognya, yang buat saya naik turunin volume terus (dikecilin nggak kedengaran dialog, dikencengin malah kegedean pas ada ledakan).

Kalau dari segi cerita saya nggak sepenuhnya paham apa yang dibicarakan, tapi kalau secara keseluruhan masih bisa dipahami lah, terlebih ini ada unsur action nya gitu jadi rasanya seru aja untuk ditonton, nggak boring dan feels entertaining.




Karakter favorit saya di film ini tentu saja Harry Tuttle yang diperankan oleh kakek De Niro. Beliau kocak banget disini, biasanya liat dia jadi mafia atau jadi lonely man, di film ini jadi teman sekaligus penyelamat Sam Lowry, ditambah kostum dan tingkah nya yang lucu banget.

Saya juga suka sama karakter utama, Sam Lowry, yang gigih banget ngelakuin apa aja biar berhasil deketin Jill (wanita idamannya), dan saya senang ketika akhirnya mereka dapat bersatu di ending film.

Beberapa adegan bisa dibilang jenius, kayak ada aja gitu idenya, apalagi pas Tuttle tuker pipa saluran sama pas Sam masukin kode rahasia buat naik lift, bikin terkagum sih itu.




Saya paling suka sama dunia di film ini, kayak menarik aja dari segi production design, sampai penasaran kalau set kayak gitu ada di dunia nyata, menarik sepertinya. Oh iya, sinematografi nya juga enak dilihat, tipe yang vivid dan serasa mimpi gitu, cocok sama taste saya.

Oh iya film ini juga fokusnya soal terorisme, saya cuma nangkep itu cuma garis besarnya aja, nggak terlalu paham sebenarnya siapa dibalik terorisme tersebut, siapa aja korbannya, dan alasan penangkapan korban tersebut. Yang jelas nanti bakal rewatch biar makin paham.

Overall Brazil merupakan film yang fun untuk ditonton, layaknya film Christmast yang ada di tv. Meskipun nggak paham sama isu terorisme yang dibawakan, setidaknya ini menarik untuk diikuti, tidak lupa sinematografi yang enak dipandang sehingga tidak bosan ketika menontonnya, poin plus pokoknya.

Rating : 4/5

Review 2001: A Space Odyssey (Bahasa)

Review 2001: A Space Odyssey (1968) Karya Stanley Kubrick

3 kata : Amarah, misterius, canggih

2001: A Space Odyssey adalah film science fiction tentang 2 astronot (Dave dan Frank) yang melakukan penjelajahan ke planet terbesar di galaksi bimasakti. Sepanjang perjalanannya, mereka mengalami berbagai hal tak terduga. Tak hanya itu, film ini juga menggambarkan kondisi peradaban manusia pada zaman purba, misteri alam semesta, dan perkembangan teknologi.

Beberapa poin-poin yang saya tangkap dari film ini diantaranya:


1. Kondisi manusia pada zaman purba

Kehidupan digambarkan saat manusia masih berupa animal kera di sebuah gurun. Suatu zaman dimana manusia harus berburu mangsa untuk dimakan dan mencari sumber mata air untuk diminum, yang diprosesnya diperlukan perselisihan antara kelompok satu dengan kelompok lain demi memperebutkan kebutuhan pangan mereka. Disitulah, manusia mulai mengenal senjata yang berfungsi sebagai alat untuk mematikan lawan dengan sebuah tulang. 

2. Perkembangan teknologi 

Berbanding terbalik saat zaman purba, di zaman modern khususnya tahun 2001, manusia seutuhnya sudah menjadi manusia modern, yakni mampu menciptakan berbagai teknologi, seperti video call, komputer canggih (di film ini bernama HAL-9000), serta pesawat yang mampu membawa mereka ke luar angkasa.


3. Misteri alam semesta

Kemunculan monolit sudah tampak di sekuens awal (the dawn of man) yang membuat sekumpulan kera seketika terkejut dan berteriak histeris. Suatu kejadian yang menghebohkan bagi mereka jika suatu benda berbentuk balok hitam tersebut muncul entah darimana asalnya. Kemunculannya pun masih berlanjut di zaman modern, ketika monolit ditemukan di sebuah planet dalam kondisi terkubur. Di ending film monolit juga muncul ketika Dave tiba di sebuah rumah misterius yang entah dimana keberadaannya, setelah Dave mengalami perjalanan waktu yang aneh dan misterius.


4. Tidak ada yang sempurna

HAL-9000 dikenal sebagai komputer yang mempunyai klaim tidak pernah melakukan kesalahan dalam prosesnya. Namun hal tersebut sempat diragukan ketika Dave dan Frank menyadari bahwa suatu kesimpulan yang dikatakan HAL dirasa tidak benar adanya. Khawatir akan kesalahan fatal selanjutnya terjadi, mereka malah melakukan tindakan yang sangat berisiko; menghentikan operasi HAL. 

5. Kemarahan yang tak terkendali

Rencana penghentian operasi HAL yang dibicarakan secara diam-diam oleh Dave dan Frank diketahui HAL lewat gerakan bibir, sehingga membuat HAL melakukan segala upaya agar ia dapat menghentikan tindakan mereka, yang mengakibatkan Frank yang kehilangan nyawanya karena kehabisan oksigen, keselamatan Dave yang hampir tidak terselamatkan, dan nyawa dari ketiga astronot yang sedang hibernasi dipertaruhkan. Dave yang murka lantas melalukan aksi balas dendam dengan menghentikan operasi HAL yang beberapa kali hendak dihentikan oleh HAL. Namun apa boleh buat jika amarah sudah  tidak terbendung. 

6. Star child lambang kesucian

Di ending, kita diperlihatkan Dave yang tiba di rumah misterius yang entah dimana. Dirinya menua dengan sangat cepat sehingga setelah tepat monolit muncul dihadapannya, dirinya berubah menjadi sosok Star child atau bayi raksasa yang bermakna kelahiran kembali atau hasil dari proses pensucian diri dari dosa-dosa. 


Rating : 5/5

My Thoughts in Columbus (2017)

 Hal-hal yang saya pelajari dari film Columbus (2017) diantaranya: 1. Bersahabat dengan zona nyaman Casey memiliki mimpi untuk berkarir di K...