Review Aftersun (2022) Karya Charlotte Wells
3 kata : Emosional, Cantik, Hampa
Aftersun bercerita tentang seorang perempuan bernama Sophie tengah menonton rekaman saat liburan terakhirnya bersama ayahnya (Calum) dan ia membayangkan dirinya yang sudah jauh lebih dewasa sedang berada di momen liburan tersebut.
Warning : This review may contain spoilers.
Review :
Sebetulnya ini kali kedua saya menonton film ini. Waktu pertama kali nonton saya bingung ini film apa, lantas rasanya tidak ada konflik yang begitu signifikan, hanya menampilkan shot seorang anak perempuan dan ayahnya yang sedang liburan. Namun saat nonton kedua kalinya, baru saya paham apa yang sebenernya terjadi (terbantu karena baca review orang juga, sih).
Seperti film A24 lainnya, film ini banyak menampilkan shot yang tidak bergerak, walau porsinya tidak sebanyak itu juga, namun tetap beberapa kali menimbulkan rasa ngantuk saat menontonnya.
Sinematografinya jempolan sih, bener bener bisa pas sama apa adegannya, kalau lagi adegan kolam renang vibes-nya ceria, dan pas adegan sedih pun visual-nya juga ngikutin. Ditambah ada beberapa scene yang diambil dari digicam jadi makin kerasa nostalgic nya.
Untuk cerita memang kelihatannya simple, tapi sebenarnya dalam. Mungkin di awal cuma ngerasa, "oh ini cuma tentang anak sama bapak liburan aja" namun ternyata lebih dari itu. Sophie yang sudah beranjak dewasa sedang mengamati dan menonton video-video rekaman dari digicam nya, yang ia ambil saat liburan bersama ayahnya, Calum, yang ternyata itu adalah liburan terakhir mereka.
Calum sudah merencanakan liburan terakhir bersama Sophie, sebelum Sophie kembali sekolah dan dijaga oleh ibunya. Calum berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuknya, dengan memberikan pengalaman liburan yang tidak akan dilupakan Sophie, pengalaman yang berharga.
Tak terasa penghujung liburan sudah tiba, Calum mengantar Sophie ke tempat keberangkatannya. Setelah Sophie pergi dan melambaikan tangan, Calum pun pergi meninggalkannya dengan perasaan sedih, mengingat itu adalah liburan terakhir mereka dan Calum meninggal akibat bunuh diri setelah itu. Terlihat ada strobe lights di balik pintu setelah Calum pergi dari tempat tersebut.
Strobe lights tersebut mengacu pada adegan kedap-kedip yang bisa kita lihat dari awal sampai akhir film, membuat adegan menjadi lumayan susah dilihat oleh mata (bikin sakit mata kalo boleh jujur). Scene-scene tersebut merupakan haluan Sophie dewasa saat ia menyaksikan rekaman liburan terakhir dan membayangkan dirinya berada di sana, tepatnya saat Calum menari.
Adegan menari tersebut merupakan scene yang epic menurut saya, soalnya adegan yang ditampilan cocok dengan lagu yang mengiringinya, lagu berjudul "Under Pressure" karya Queen dan David Bowie. Lirik "This is our last dance" bener-bener cocok dan ngena.
Satu hal yang menarik dari film ini bukan hanya hubungan di antara mereka, namun dari segi Sophie yang beberapa kali mengamati anak anak yang umurnya lebih dewasa dibandingkan dirinya, tengah melakukan tindakan yang rasanya kurang pantas untuk dilihatnya. Ditampilkan juga pertemuannya dengan seorang bocah laki-laki bernama Michael yang ternyata agak suka terhadapnya. Sophie juga mengatakan perasaan yang sama dan mereka pun berciuman. Awalnya saya ngerasa nggak wajar untuk begituan di usia mereka yang berkisar 11 tahun, tapi ngaca aja nggak sih sama kondisi di negara sendiri?
Dari segi cerita yang saya sudah bilang "simple tapi dalam" memang menggambarkan film ini yang terasa simple namun jika kita kaji dan perhatikan lebih dalam, akan terasa larut dalam kesedihan yang ada. Namun harapnya film ini bisa lebih dikembangkan lagi konfliknya, sehingga bisa menjadi nilai plus tentunya.
Overall Aftersun merupakan film yang emosional dan bisa dirasakan ketika kita benar benar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ditampilkan dengan visual yang manis namun tidak halnya dengan ceritanya. Film yang dapat menyisakan diri kita dengan perasaan sedih, kosong, dan nyesek, dibantu juga dengan musik yang emosional.
Rating : 4/5

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar